Newest Post

Terima Kasih

| Senin, 10 September 2012
Baca selengkapnya »
Puisi ini aku persembahkan untuk seseorang yang selama dua tahun terakhir selalu membantuku, dengan sabar menghadapi aku yang merepotkan, dan sering berbagi hal-hal gila. XD
Walaupun ini hanyalah sebuah puisi jelek bermakna sangat sederhana, but here's the poem. :D

Terima Kasih

Terima kasih telah menjadi temanku
Yang telah menghindarkanku dari neraka kesendirian
Terima kasih telah menjadi sahabatku
Yang telah menemaniku dalam hari-hari terpurukku
Terima kasih telah menjadi kaki dan tanganku
Yang telah menopang kehidupanku
Terima kasih telah menjadi kakakku
Yang dengan sabar dan bijaksana membimbingku ke arah kebenaran
Terima kasih telah menjadi pangeran untukku
Yang telah mengenalkan padaku arti mencintai
Terimakasihku hanya untukmu
Senyum dan tawaku hanya untuk kebahagiaanmu
Bahuku hanya untuk sandaranmu
Aku hanya ingin berterimakasih
Dan membalas semua kebaikan yang telah kau berikan padaku
Yang telah kau ukirkan di hatiku
Selalu lah bersamaku..
Dan berbagi kisah denganku

Terima Kasih

Posted by : yuliarie11
Date :Senin, 10 September 2012
With 0komentar
Tag : ,

Fenomena Langit di Bulan Juni 2012 [Astronomi]

| Selasa, 19 Juni 2012
Baca selengkapnya »
Fenomena Keajaiban Langit di Bulan Juni 2012 - Bulan Juni pada tahun ini menjadi bulan istimewa bagi penggemar dan pengamat yang suka melihat dan menyaksikan penampakan-penampakan di langit dengan fenomena alamnya. Beberapa fenomena langit atau fenomena astronomi mengagumkan dikabarkan akan terjadi di bulan ini. Fenomena Keajaiban Langit di Bulan Juni 2012 Berikut empat fenomena langit atau fenomena astronomi mengagumkan yang kemungkinan besar akan terjadi dan dapat dilihat pada bulan Juni 2012 ini. 1. Gerhana Bulan Gerhana Bulan merupakan suatu peristiwa ketika terhalanginya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan. Gerhana Bulan terjadi saat Matahari, Bumi, dan Bulan terletak pada posisi segaris. Adapun Gerhana Bulan yang terjadi adalah Gerhana Bulan Sebagian (GBS) yang terjadi pada tanggal 04 Juni 2012. Fenomena gerhana bulan sebagian ini akan mengalami puncak pada pukul 18.03 WIB, dan bisa dilihat oleh seluruh warga Indonesia. Wilayah yang bisa menyaksikan seluruh proses gerhana adalah Indonesia Timur. Walaupun gerhana bulan sudah tidak asing lagi dan sering terjadi, namun fenomena ini tetap asyik untuk dinikmati. 2. Transit Venus Transit Venus merupakan fenomena langit yang paling dinanti tahun ini, karena fenomena Transit Venus ini tergolong langka dan baru akan terjadi lagi tahun 2117. Transit Venus adalah mampirnya Venus di muka Matahari. Venus berada di antara Bumi dan Matahari. Seperti diberitakan, fenomena Transit Venus ini akan terjadi pada 6 Juni 2012 pukul 05.14 hingga 11.50 WIB. Untuk mengamati fenomena Transit Venus, pengamat diwajibkan menggunakan teleskop yang telah dilengkapi dengan filter agar tidak merusak mata. Wilayah terbaik untuk mengamati fenomena ini adalah di Indonesia Timur, dan seluruh proses transit bisa terlihat. Pada fenomena ini, kalangan astronom memanfaatkannya untuk melatih diri mengonfirmasi keberadaan planet dengan metode transit. 3. Segitiga Bulan, Venus, dan Jupiter Fenomena lain yang kemungkinan juga akan terjadi yaitu pada tanggal 18 Juni 2012, Venus, Bulan, dan Jupiter akan membentuk formasi segitiga. Venus akan tampak terang dengan magnitud -4,08, sementara Jupiter bermagnitud -1,87. Fenomena ini dapat dilihat dengan mata telanjang. Waktu untuk melihat fenomena ini sangat singkat, fenomena ini akan terlihat menjelang fajar, sekitar pukul 05.00 WIB. Sedikit terlengah, fenomena ini sudah akan hilang karena cahaya Matahari yang terang. 4. Segitiga Bulan, Mars, dan Saturnus Pada tanggal 27 Juni 2012, kejadian yang sama diperkirakan akan terjadi juga pada planet lain. Planet bercincin atau Saturnus akan tampil dengan Bulan dan Mars membentuk segitiga. Fenomena ini dapat dilihat mulai setelah Matahari tenggelam hingga sekitar pukul 22.00 WIB.

Fenomena Langit di Bulan Juni 2012 [Astronomi]

Posted by : yuliarie11
Date :Selasa, 19 Juni 2012
With 0komentar

Back On-We Are [Lyrics and Indonesia Translation]

| Kamis, 22 Maret 2012
Baca selengkapnya »
bokura hakono sora no shita de iki teiru
sou , muzukashiku kangae nakutemoiisa
te wo tsunai de ooki na hitotsu he
bokura ha kae teikeru

haruka kanata niwazuka
mie ru ootsubu no namida
sono te wo noba su koto de
hikari ni tsutsuma rerudarou
bokura ashita ha futashika
kurikaesu marude namima
ittainani wo nokoshi te ,
mirai ni susun de iku ndarou ?

hitori janai . hora , kono hoshi no uede
onaji sora no shita de tsunaga tteiru
fuan to kibou dae teru bokura ha
kagayaku negai wo tsukan de aruki dasu ima

namida nagasu nichi moarudarou
hito wo kizutsu keru nichi moarudarou
ashita ga mie nai nichi moarudarou
kodoku ni furue ru nichi moarudarou
demo …

hitori janai hora , kono hoshi no uede
onaji sora no shita de tsunaga tteiru
fuan to kibou dae teru bokura ha
kagayaku negai wo tsukan de aruki dasu ima

chiisa na hitotsu no hikari datte
atsuma tte taiyou ninatte
kono sekai wo sen yakani tera sudarou
negai no kakera ha chira batte
yagatekono sekai ni hiroga tte
kono daichi ni ooki na hana wo saka sudarou



Indonesian Translation:

— Kita hidup di bawah langit
— Ya, aku bisa berpikir ini sulit
— Kedalam satu bergandengan tangan
— Kita bisa berubah

— Airmata tampak menjauh
— Ini kan terbungkus dalam cahaya yang membentang
— Hari esok kita kan ulangi gelombang seolah-olah tak menentu
— Tuk meninggalkan apa yang kan keluar di masa depan?

— Tak sendirian. Disini, di planet ini
— Dihubungkan dibawah langit yang sama
— Kita miliki keinginan dan harapan
— Ku ingin berjalan dengan merebut cahaya

— Ada hari ketika air mata kan bercucuran
— Ada hari ketika orang-orang kan terluka
— Disana tak kan terlihat matahari esok
— Ada hari ketika kesepian kan menggetarkan
— Tapi…

— Kau tak sendirian. Disini, di planet ini
— Dihubungkan dibawah langit yang sama
— Kita punya keinginan dan harapan
— Aku berharap berjalan dengan merebut cahaya

— Cahaya kecil pun
— kan berkumpul di matahari
— Dunia ini kan bersinar terang
— Potongan harapan berserakan
— Secepatnya menjalar ke dunia
— Bunga berkembang di tanah ini kan membesar

Source: http://furahasekai.wordpress.com

Back On-We Are [Lyrics and Indonesia Translation]

Posted by : yuliarie11
Date :Kamis, 22 Maret 2012
With 0komentar

Borderline - One Ok Rock

| Senin, 13 Februari 2012
Baca selengkapnya »
Doko de umarete boku wa doko de sodatta no?

dareka ni aisareta kioku wa nai

I can't load my secret code wakaranai mama

pankushisou na omoi wo dou sureba ii?



Itsumo I'm thinking ki ni natte shikata ga nai kara

Someone! Please take me away



I didn't know much about love and happiness

I didn't know much about hope and fondness

Mezamete kanjirareta ikiru tame ni hitsuyou na koto

Dore dake ai to shinjitsu wo shinji dore dake kachi ga aru ka shiritakute

Hito to no deai tsunagaru sekai mata hitotsu ashitonokoshite



Hito wo ima made hanshinhangi de mite ita

I'm sick of myself subete ni taishite

Please tell me when to believe it again

Kyoukaisen ga hakkirishinai kara kiro demo ga iteru



No-one knows hontou no shittoshin wo misetakunai kara

Don't try to hide your own way



I didn't know much about joy and tenderness

I didn't know much about truth and faithfulness

Subete ga tokihanatare kokoro no iru ga kawaru

Dore dake ai to shinjitsu wo shinji dore dake kachi ga aru ka shiritakute

Kimi to node ai tsunagaru sekai mata hitotsu ashitonokoshite



Dore dake ai to shinjitsu wo shinji dore dake kachi ga aru ka shiritakute

Subete ga ugokidashita dakara moving for the future



I didn't know much about love and happiness

I didn't know much about hope and fondness

Mezamete kanjirareta ikiru tame ni hitsuyou na koto

Yoika warui ka shinjitsu wo shinji kotae wa jibun no naka ni aru sa

Hito to no deai tsunagaru sekai mata hitotsu ashitonokoshite



Translation


where was I born? where am I from?

I can't remember anyone that has loved me

I can't load my secret code I still don't understand

what should I do about these feelings that are about to explode?



always I'm thinking, my mind is occupied

someone! please take me away



I didn't know much about love and happiness

I didn't know much about hope and fondness

I woke up, felt emotions, felt the need to live

how much do I trust love and truth, how do I value or know

I meet people in this connected world and leave footprints everywhere



up until now I was looking at people dubiously

I'm sick of myself about everything

please tell me when to believe it again

the boundary line isn't distinct and I am stuck wandering at the branches



no-one knows because they don't see true jealousy

don't try to hide your own way



I didn't know much about joy and tenderness

I didn't know much about truth and faithfulness

everything is released and the heart's color changes

how much do I trust love and truth, how do I value or know

I meet you in this connected world and leave footprints everywhere



how much do I trust love and truth, how do I value or know

everything is moving on because it's moving for the future



I didn't know much about love and happiness

I didn't know much about hope and fondness

I woke up, felt emotions, felt the need to live

whether it's good or bad, I believe in truth, because the answer is within me

I meet people in this connected world and leave footprints everywhere

Borderline - One Ok Rock

Posted by : yuliarie11
Date :Senin, 13 Februari 2012
With 0komentar
Tag : ,

Kisi-kisi Soal [Pekan Raya Fisika -> PNP]

| Jumat, 27 Januari 2012
Baca selengkapnya »
Silabus Soal Seleksi Daerah PnP (Prince and Princess) 2012
- Skalar dan Vektor
· Vektor pada bidang koordinat
- Kinematika
· Gerak parabola
· Gerak melingkar
· Gerak lurus : Gerak lurus beraturan
Gerak lurus berubah beraturan
· Gerak Jatuh bebas
- Dinamika Partikel
· Hukum 1 Newton
· Momentum
· Hukum II Newton
· Momentum Sudut
· Hukum III Newton
· Tumbukan
- Gaya dan Benda
· Keseimbangan gaya-gaya dan benda
· Pengaruh gaya dalam gerak benda : Gaya sentral
Gaya elastik
- Kerja, Energi, dan Daya
· Konsep energi : Energi potensial
Energi kinetik
Energi mekanik
· Gerak dengan formula energi : Gerak lurus benda karena pengaruh gaya
konservatif
- Benda Tegar
· Gerak benda tegar
· Momen inersia
· Rotasi benda tegar
- Medan Gravitasi
· Interaksi dua materi
· Energi potensial (gravitasi)
· Gerak planet : Hukum Kepler dalam gaya sentral
- Fluida
· Hydrostatis : Hukum Pascal
Hukum Archimedes
· Hydrodinamik : Persamaan Bernoulli
· Fluida Kental : Aliran fluida kental dalam pipa
Hukum Stokes

Kisi-kisi Soal [Pekan Raya Fisika -> PNP]

Posted by : yuliarie11
Date :Jumat, 27 Januari 2012
With 0komentar
Tag : ,

MISTERI RUMAH KOSONG DAN JENDELA YANG TIDAK BISA TERBUKA 3

| Selasa, 10 Januari 2012
Baca selengkapnya »
Pagi itu, mereka sudah berkumpul di depan rumah kosong itu. Rumah itu tetap sepi seperti sebelumnya. Dengan hati-hati mereka masuk ke dalam rumah itu. Ruang tamu dimana Rossy tertusuk juga masih menyisakan darah yang telah mongering. Mytha, Fandy dan Dony masih teringat dengan kejadian saat Rossy tertusuk kemarin. Tekad mereka yang telah membara membawa mereka masuk ke dalam rahasia rumah itu lebih jauh.
Mytha berhenti pada rak buku dan mengambil album yang tersimpan di sana. Dia membuka-buka kembali album itu. Dan kemudian menyadari bahwa foto-foto yang telah dilepas dari album itu, memiliki bekas yang sangat baru. Apakah pembunuh itu yang mengambilnya? Tapi untuk apa mengambil foto usang itu? Tanyanya dalam hati. Dia terus membuka-buka foto itu dan mengamati setiap potret yang ada di sana. Pada sebuah foto, ada tiga orang anak. Anak laki-laki berumur sekitar 15 tahun sedang asyik mendengarkan musik dari radio yang ada di tangannya, anak perempuan yang berumur sekitar 7 tahun sedang bermain dengan boneka beruangnya, dan seorang anak perempuan lagi yang sedang duduk di dekat kakaknya yang sedang bermain boneka.
“Teman-teman, lihat ini.” Kata Mytha tiba-tiba. Anak ini adalah keturunan terakhir dari keluarga itu yang tidak terbunuh.”
“Anak perempuan ya? Sekarang sudah seumuran dengan kita, kan? Jika dia masih hidup sih.” Kata Dony.
“Tapi sayang. Wajahnya tidak terlalu jelas pada foto ini.” Kata Fandy menyayangkan keadaan foto yang sudah usang itu.
“Nah, sekarang kalian perhatikan foto-foto yang ada di album ini. Hanya ada satu foto yang ada anak bungsu itu. Dan lagi, coba perhatikan bagian album yang fotonya terlepas itu. Bekasnya masih baru. Aku baru menyadarinya setelah aku melihat album ini dengan seksama.” Kata Mytha menjelaskan keteledorannya.
“Apakah pembunuh itu yang mengambil foto itu?” Tanya Dony.
“Itu mungkin saja. Mungkin pembunuh itu benar-benar ingin melenyapkan seluruh anggota keluarga itu.” kata Fandy menambahkan.
“Masih ada yang ingin ku katakan.” Kata Mytha. Nada suaranya mengecil, seakan ingin berbisik.
“Apa itu?” Tanya Fandy penasaran.
“Sejujurnya, aku mulai mencurigai Riko dan teman-temannya. Karena itu, aku sudah menyelidiki Riko dan teman-temannya. Dari penuturan teman-teman sekolahnya, Riko baru 1 tahun pindah ke SMA 5. Christ dan Zhee mulai menjadi akrab dengannya ketika Riko membuat klub misteri di sekolah itu. Anehnya, klub yang mereka dirikan itu hanya terdiri dari mereka bertiga dan mereka tidak mau menerima anggota lainnya.” Cerita Mytha.
“Kamu tidak boleh mencurigai orang lain tanpa bukti yang kuat seperti itu, Mytha!” kata Fandy. “Bukankah itu yang kamu katakan?” Sambungnya.
“Aku tahu. Dan aku juga tahu Dony menyembunyikan BONEKA KUMA itu.” katanya tajam ke arah Dony.
“Apa?!!” Fandy terkejut mendengar perkataan Mytha dan langsung menoleh ke arah Dony untuk meminta penjelasan. Dony yang di tatap tajam seperti itu hanya nyengir dan mengangguk.
“Tapi kenapa kamu menyembunyikannya?” Tanya Fandy heran.
“Sudah aku katakan, aku tidak bisa mempercayai mereka. Kamu saja yang terlalu gampang percaya pada orang lain, Fandy.” Kata Dony. “Aku melakukan itu karena sejak awal aku sudah mengawasi mereka dan tingkah laku mereka aneh. Saat kita pertama kali bertemu mereka, mereka mengatakan mereka mengira kita adalah pembunuh itu. Dan mereka takut pada pembunuh itu. Tapi, hanya salah satu dari mereka yang mengejar kita.” kata Dony.
Dony berhenti sejenak, kemudian melanjutkan analisanya. “Selain itu, apakah seorang pembunuh akan bersin ketika mengintai mangsanya? Dan berlari ketika ada satu orang mengejarnya? Kita berempat saat itu, bunyi langkah kaki kita dalam kegelapan saat itu pasti terdengar sangat banyak dan tak beraturan dan mereka seharusnya sudah mengetahui bahwa pembunuh itu ada 2 orang, dan tidak lebih dari itu. Mereka klub misteri. Seharusnya mereka tahu akan hal itu.“
“Hebat kamu, Don. Tidak aku sangka kamu menyadari itu sejak pertama kali kita bertemu mereka.” Kata Mytha. Sebetulnya, dia juga ingin mengatakan kecurigaan yang sama seperti yang di katakana Dony.
“Aku mengerti.” Kata Fandy. “Kalian benar. Mungkin aku terlalu mudah untuk percaya pada orang lain. Nah, Dony. Sekarang beri tahu kami di mana kamu menyembunyikan BONEKA KUMA itu.” kata Fandy akhirnya. Dia mengakui, mungkin hanya dialah yang paling mudah ditipu di kelompok mereka.
Dony berjalan menuju ke ruangan yang lebih dalam, ruang keluarga di rumah itu, diikuti oleh kedua temannya. Dia kemudian menuju sofa, dan meraba-raba bagian bawah sofa itu. Sesaat kemudian, dia menarik sesuatu dari bawah sofa itu dan menunjukkan pada teman-temannya.
“Nah, inilah BONEKA KUMA yang aku sembunyikan itu.” katanya dengan percaya diri.
“Hm.. Dony, boleh aku berkata sesuatu?” Tanya Mytha.
“Ya? Ada apa?” tanyanya.
“Itu bukan boneka. Tapi itu.. Itu.. Itu seekor binatang aneh berbulu dan kelihatan menjijikkan.” Kata Mytha.
“Apa?!!” seru Dony. Dia langsung menoleh pada benda yang ada di tangannya. “Huwaaaa….. Benda apa itu??” teriaknya dan langsung membuang benda aneh itu. Mytha dan Fandy tertawa melihat tingkah laku Dony.
Benda itu berjalan perlahan dan menjauh dari ketiga remaja itu. Berjalan menggeliat seperti seekor ulat raksasa. “Rumah ini mengerikan. Kamu saja yang mengambil BONEKA KUMA itu, Fandy.” Katanya sambil mendorong Fandy ke dekat sofa itu.
“Dasar penakut kamu, Dony.” Keluh Fandy. “Nah, dimana kamu letakkan BONEKA KUMA itu?”
“Sedikit bergeser ke kanan, Fandy. Yak, tepat di situ.” Katanya.
“Aku dapat.” Kata Fandy.

Mereka kemudian segera memeriksa boneka itu, dan menemukan sobekan kertas kecil di antara sela-sela pita di bawah leher boneka beruang itu. Pada kertas itu, terdapat pesan yang berbunyi, “KALIAN BERHASIL MENEMUKANNYA. INI ADALAH YANG TERAKHIR. BISAKAH KALIAN MENEMUKAN HARTA ITU? YANG TELAH KALIAN LALUI AKAN JADI PETUNJUKNYA”. Dan ada sederet huruf-huruf acak di bawah kalimat itu.

Sekali lagi mereka harus berpikir untuk memecahkan kode-kode itu, di tengah-tengah pengawasan pembunuh berdarah dingin. Kode itu cukup rumit. Sambil memainkan boneka beruang usang itu, Mytha berpikir keras untuk memecahkan kode itu. Dony dan Fandy juga berusaha mengeluarkan kemampuan mereka. Di saat mereka sedang berpikir keras, terdengar beberapa langkah kaki masuk ke dalam rumah itu. Ketiga remaja itu bersiaga. Mytha segera menyembunyikan boneka beruang itu ke dalam tasnya.
Tidak lama kemudian, tiga orang yang sangat mereka kenal masuk ke dalam ruangan itu. Riko, Christ dan Zhee masuk ke ruangan itu dengan santai seolah mereka telah mengetahui bahwa Fandy, Dony dan Mytha memang ada di rumah itu. Fandy, Mytha, dan Dony tetap memasang sikap waspada. Kali ini mereka tidak biasa mempercayai ketiga siswa SMA 5 itu.
“Hei, kenapa kalian waspada seperti itu? Kami kan bukan musuh kalian.” kata Riko berusaha membuat suasana yang bersahabat.
“Kami tidak bisa percaya kalian.” Kata Mytha.
“Kenapa? Kita bersama-sama mencari harta itu kan? Kita teman kan?” kata Christ menambahkan. Dia juga membenci suasana tidak bersahabat itu.
“Riko! Mengakulah. Kamu yang telah menusuk Rossy. Benarkan apa yang aku katakan?” kata Dony langsung menuduh Riko.
“Apa?!! Bagaimana aku bisa melakukannya? Kenapa aku harus menusuk Rossy? Lagipula, bukankah pembunuh itu yang melakukannya? Pembunuh itu tidak mungkin ada diantara kita.” Riko berusaha membela diri.
“Kamu adalah pembunuhnya, Riko! Kamu sebenarnya tidak hanya ingin menusuk Rossy. Tapi juga membunuhnya, kan?” kata Dony. “Tapi sayangnya, Rossy tahu niat burukmu itu sehingga dia tidak sampai meninggal.” Katanya lagi.
“Haha.. Lucu. Kenapa aku ingin membunuh Rossy? Aku tidak punya motif.” Kata Riko lagi.
“Kamu punya motif. Itu karena Rossy mirip dengan anak bungsu keluarga ini yang gagal kamu bunuh 15 tahun yang lalu.” Fandy yang diam, mulai angkat bicara.
“Kak Riko masih berumur 18 tahun. Bagaimana mungkin dia menjadi pembunuh keluarga yang ada di rumah ini 15 tahun yang lalu? Kalian akan mengatakan bahwa Kak Riko yang masih bayi bisa membunuh?” Kata Zhee turut membela Riko.
“Tenanglah, Zhee.” Riko menenangkan Zhee yang emosinya sudah mulai membara. “Baiklah. Jika seperti itu, bagaimana caraku menusuk Rossy? Kami masing-masing sibuk mencari BONEKA KUMA itu. Dan saat itu, Zhee juga bersama kami.” Kata Riko terus membela diri.
“Kamu mendatangi Rossy, dan langsung menusuknya. Kamu sudah memperkirakan Rossy akan berteriak sekeras itu, sehingga kamu membuat trik dengan tempatmu berdiri dan tempat Rossy berdiri.” Dony berhenti sejenak. “Zhee, apakah kamu melihat seseorang keluar atau masuk ke ruang tamu itu? Dan apakah Riko ada di tempatnya?” Tanya Dony.
“Tidak. Aku tidak melihatnya. Tapi aku yakin melihat Kak Riko masih mencari boneka itu di rak lemari.” Katanya.
“Saat itu rumah ini telah gelap. Sangat sulit melihat dalam kegelapan itu. Jadi, kamu menggantungkan sentermu dengan tali tipis. Senter yang tergantung itu akan bergerak-gerak sehingga terlihat seperti kamu sedang sibuk mencari boneka itu. Dan untuk mendekati Rossy, kamu menggunakan senter yang digunakan Rossy sebagai petunjuk tujuanmu. Itulah sebabnya kamu tidak bisa mengenai organ vital Rossy karena Rossy bergerak-gerak. Setelah menusuk Rossy, kamu segera kembali mengambil sentermu dan bergegas kembali ke arah teriakan Rossy bersama dengan yang lainnya.” Jelas Dony.
“Alasan kenapa kamu bisa terlihat seperti berumur 18 tahun adalah karena kamu menggunakan uang hasil curianmu untuk operasi plastik.” Sambung Fandy.
“Benarkah itu, kak?” Tanya Zhee.
Riko tidak menjawab pertanyaan itu. “Kak Riko, benarkah yang mereka katakan?” desak Christ.
“Hahaha.. Kalian payah. Apa buktinya aku yang telah menusuk Rossy, dan menyebabkan semua terror itu?” katanya sambil terbahak-bahak.
“Pisau. Pisau yang kamu gunakan untuk menusuk Rossy, kali pasti kamu bawa karena kamu tahu kami akan ke sini hari ini dan akan berusaha menguak kejahatanmu dan mencari harta itu lagi. Luminol pasti bisa mendeteksi adanya bekas darah pada pisau itu. Pisau itu nantinya akan kamu gunakan untuk merebut harta itu dari kami.” Kata Dony lagi. “Apa aku salah?”
“Kalian benar. Harta itu akan menjadi milikku sekarang.” Kata Riko dan langsung mengeluarkan pisau dari tasnya. Namun, Dony yang sudah menduga akan hal itu, segera melompat ke arah Riko dan mengunci gerakannya. Mereka pun akhirnya berhasil mengikat Riko. Zhee dan Christ tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Kakak Riko adalah pembunuh itu?” pikir mereka.
Satu orang dari dua pembunuh keluarga itu telah tertangkap oleh mereka. Mereka pun kembali berpikir keras untuk memecahkan kode terakhir tanpa menghiraukan Riko yang berisik di samping mereka.
“Apa arti kode itu ya?” kata Mytha. “Aku masih tidak mengerti kata-kata ‘YANG TELAH KALIAN LALUI AKAN JADI PETUNJUKNYA’.” katanya lagi.
“Apakah maksudnya kode-kode sebelumnya?” kata Zhee.
“Sepertinya begitu. Apakah kalian ingin bergabung dengan kami untuk memecahkan kode ini Zhee, Christ?” Tanya Dony.
“Kami ikut. Kami tidak mau bergabung dengan pembunuh itu lagi.” Kata Christ sambil menatap tajam ke arah Riko.
“Aku juga. Kami telah ditipu olehnya selama satu tahun.” Tambah Zhee. Riko yang mendapat tatapan tajam itu hanya diam saja. Dia tidak gentar menerima tatapan itu. Dia telah ikut ‘orang itu’ membunuh saat dia masih berumur 15 tahun, pikirnya. Dia akan mendapatkan harta itu untuk ‘orang itu’. Dan dia akan membiarkan anak-anak itu untuk memecahkannya. Setelah itu, barulah dia merebutnya, pikirnya.
“Nah, masalahnya sekarang adalah kode yang mana?” kata Dony meminta pendapat teman-temannya. “Hei, Fan. Bantu kami untuk memecahkannya dong. Dari tadi kamu diam saja.”
Fandy tidak mendengarkan perkataan Dony. Dia sedang asyik mengutak-atik sesuatu. Dony yang kesal karena perkataannya tidak di hiraukan oleh Fandy, berjalan dengan kesal dan langsung mengguncang tubuh Fandy. Fandy yang kaget, mengumpat tindakan Dony.
“Kamu sih, tidak mendengarkanku.” Kata Dony. “Bantu kami memecahkan kode itu dong. Kamu asyik sendiri dari tadi.” Kata Dony kesal.
“Oh, maaf. Aku dari tadi keasyikan. Aku sedang berusaha memecahkan kode itu. Tenang saja. Aku membantu kalian kok.” Katanya.
“Bagaimana, Fan? Apa kamu tahu arti kode itu?” Tanya Mytha.
“Yah, begitulah.” Kata Fandy. “Tapi sepertinya kode itu masih menuntut kita untuk pergi ke suatu tempat.” Jelas Fandy.
“Jelaskan bagaimana kamu memecahkan kode itu.” kata Dony.
“Baiklah. Kode itu sebenarnya mudah. Itu hanyalah sandi Vigenere.” Kata Fandy member petunjuk pada teman-temannya.
“Apa? Bagaimana mungkin?” Tanya Dony tidak percaya.
“Iya. Petunjuknya adalah ‘YANG TELAH KALIAN LALUI AKAN JADI PETUNJUKNYA’. Maksud kalimat itu adalah kode yang sebelumnya, yaitu ‘BONEKA KUMA’. Jika kita masukkan kata itu sebagai keyword nya, maka akan menjadi kalimat ‘APAKAH KALIAN BERHASIL MEMBUKA JENDELA YANG TIDAK BISA TERBUKA ITU? JIKA BELUM, SADARILAH DIMANA LETAK JENDELA ITU. DISANALAH LETAK HARTA-HARTAKU’. Aku masih belum mengerti maksud dari kata-kata itu.” kata Fandy.
Mytha yang mendengar penjelasan Fandy tersenyum. Kemudian, dia menitikkan air matanya. Fandy dan Dony yang melihat itu merasa sangat aneh karena Mytha yang pendiam itu tiba-tiba menangis tanpa sebab.
“Kamu kenapa, Mytha? Kenapa menangis?” Tanya Zhee.
“Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya terharu ketika tahu arti kode terakhir itu?” katanya sambil tersenyum.
“Jadi kamu tahu arti kode itu? katakan pada kami!” kata Dony tidak sabar.
“Sabarlah, Dony.” Kata Fandy menenangkan. “Biarkan Mytha tenang dulu.” Katanya lagi.
“Arti kode itu sangat dalam.” Kata Mytha memulai penjelasannya. “Maksud dari JENDELA YANG TIDAK BISA TERBUKA itu adalah HATI.” Katanya.
“Apa? Kenapa begitu?” kata Dony, Christ dan Zhee bersamaan.
“Dulu, keluarga yang mendiami rumah ini tidaklah harmonis seperti yang terlihat. Anak-anak mereka tidak pernah bermain bersama-sama. Semuanya melakukan semua hal sendirian. Bermain sendirian, makan sendirian, dan tidak pernah berbicara satu sama lainnya. Lalu suatu hari, sang Ayah membuat sebuah permainan dan mengatakan bahwa permainan itu menuju ke sebuah tempat harta berharga yang tersembunyi miliknya. Dia menyuruh anak-anaknya untuk mencari harta itu dan mengatakan siapa yang menemukannya akan menjadi pewaris kekayaan sang ayah. Namun, sebelum harta itu ditemukan, satu keluarga itu dibunuh.” Kata Mytha. Dia tidak bisa menahan air matanya ketika menceritakan kisah itu. Zhee duduk di sampingnya dan menghiburnya.
Mytha mengambil nafas panjang. Lalu melanjutkan ceritanya. “Tapi sekarang akhirnya aku tahu. Permainan itu hanyalah sebuah permainan. Tidak menunjukkan sekumpulan harta fisik yang gemerlapan. Harta itu memang menunjukkan ‘harta yang paling berharga’ sang ayah, yaitu anak-anaknya. Dan aku mengerti tujuan permainan ini, yaitu untuk membuat anak-anaknya akur dan bersatu.” Kata Mytha lagi.
“Tapi, Mytha. Bagaimana kamu bisa mengetahui cerita yang begitu lengkap seperti itu?” Tanya Fandy penasaran.
“Itu karena aku adalah anak itu. Anak yang tersisa dari keluarga itu. Bu Aminah lah yang selama ini menjaga ku dan merawatku. Beliau juga yang menceritakan kisah tragis keluargaku.” Kata Mytha dalam isakan tangisnya.
“Apa? Kenapa kamu tidak memberitahukan kami?” Tanya Dony.
“Aku baru mengetahuinya semalam, saat aku menceritakan apa yang di alami Rossy pada Ibu.” Kata Mytha. “Aku merasa sangat bersalah pada Rossy. Karena aku, dia menjadi korban dari pembunuh itu!” Kata Mytha sambil menunjuk geram pada Riko.
Riko yang mendengarkan cerita Mytha terbelalak. Dia tidak menduga bahwa Mytha lah anak bungsu keluarga itu, yang gagal mereka bunuh 15 tahun lalu. Tidak mungkin ‘orang itu’ salah, pikirnya. Dia yakin ‘orang itu’ tidak pernah salah. Namun, kali ini mereka juga tidak berhasil membunuh anak bungsu itu dan juga tidak berhasil mendapatkan harta itu.
“Ternyata begitu. Kode-kode itu ternyata hanyalah sebuah permainan di keluarga ini. Kita semua salah menduga. Namun, kita sudah menemukan anak yang telah lama hilang dari keluarga ini.” Kata Dony.
“Iya. Kamu benar Dony.” Kata Fandy. “Mytha, kamu harus sabar ya. Kami selalu ada untuk menghiburmu kok” sambungnya.
Mytha menunjuk Riko lalu berkata, “Sebaiknya kita tanyakan dia. Siapa pembunuh sebenarnya Ayah dan Ibuku.” Katanya tajam.
Riko yang mendengarkan perkataan Mytha hanya diam. Melihat itu, Mytha langsung membentaknya. “katakan padaku siapa yang membunuh Ayah dan Ibuku!!” katanya penuh kemarahan.
Zhee dan Christ menahannya, sedangkan Dony dan Fandy hanya diam. Mereka tahu bagaimana jadinya seorang yang pendiam ketika marah. Terlebih lagi, Mytha pasti sangat kesal karena kematian orang tuanya dan tertusuknya Rossy.
Setelah dibentak beberapa kali oleh Mytha, Zhee dan Christ, akhirnya Riko mau membuka mulutnya. “Pembunuhnya adalah pamanku.” Katanya.
“Sekarang dimana pamanmu itu?” Hardik Mytha.
“Memangnya kamu mau apa jika dia ada?” Tanya Riko seolah tidak peduli.
“Kau!!” teriak Mytha.
“Baiklah. Baiklah. Jangan berisik! Dia sudah tidak ada.” Kata Riko. “Dia sudah lama mati.” Katanya lagi.
“Apa?!!” kata Mytha tidak percaya.
“Kenapa berisik sih. Kalau mau cari dia, cari saja di kuburan sana.” Kata Riko.
“Riko.. Kau!! Berani sekali!!” Hardik Mytha.
“Berhenti Mytha.” Kata Dony menghentikan tindakan Mytha yang ingin memukul Riko. “Biarkan saja dia. Sebentar lagi dia akan masuk penjara karena Fandy telah menelepon polisi.” Katanya. “Namun, sebelum itu..”
BUUAAAKKK…
Dony meninju wajah Riko dengan sekuat tenaga. 2 kali. Belum puas, Dony juga meninju perut Riko. Riko meringis kesakitan. “Rasakan itu keponakan kurang ajar!!! Walaupun kalian sama-sama pembunuh, namun sepertinya kamu lebih busuk daripada pamanmu itu!” Kata Dony kesal. Riko tidak berkata apa-apa, hanya meringis menhan sakit di wajah dan perutnya.
Tidak lama setelah itu, polisi datang dan membawa Riko ke kantor polisi. Polisi yang menangani kasus pembunuhan keluarga Mytha 15 tahun lalu juga turut serta ke rumah kosong itu. Dia berterima kasih pada kelima remaja itu karena telah berhasil menangkap pelaku pembunuhan 15 tahun lalu yang tidak bisa dia tangkap. “Kejahatan tidak akan bertahan selamanya.” begitu katanya.
Setelah polisi-polisi itu pergi, Mytha, Dony, Fandy, Zhee, dan Christ berpisah. Pengalaman menegangkan mereka telah berakhir, menjadi sebuah pengalaman yang sangat menarik dan tidak terlupakan di saat terakhir mereka SMA.
Mytha, Fandy dan Dony tidak langsung pulang ke rumah mereka masing-masing. Mereka pergi menjenguk Rossy yang masih terbaring di rumah sakit. Mytha yang mengingat keadaan Rossy, merasa sangat bersalah dan sedih.
Di rumah sakit, Rossy telah sadar dari keadaan kritisnya. Saat melihat teman-temannya menjenguknya, dia sangat senang, namun juga kesal karena dia tahu dia pasti banyak melewatkan kejadian menarik dan menegangkan. Ketika bertemu Rossy, Mytha langsung meminta maaf dan menangis. Rossy yang bingung, meminta penjelasan pada Fandy dan Dony. Setelah mengerti semuanya, Rossy menyemangati Mytha dan memaafkannya.
“Sudahlah, Mytha. Tidak apa-apa. Ada hikmahnya juga kita mencari harta itu. Kamu jadi tahu siapa ayah dan ibumu sebenarnya.” Kata Rossy. “Kalau soal luka ini, jangan di pikirkan. Aku memang kurang hati-hati, jadinya bisa di tusuk oleh Riko.” Kata Rossy menyemangati sahabatnya itu.
“Ayolah, jangan menangis lagi dong. Mytha kan tegar. Iya kan Fan, Don?” katanya sambil mengedipkan mata.
Dony dan Fandy mengangguk. Mytha juga mengusap air mata di pipinya dan bsekali lagi meminta maaf pada Rossy. “Maaf ya, Rossy.” Katanya.
“Iya. Tidak apa-apa. Lain kali kita pecahkan misteri sama-sama lagi tanpa ada yang terluka lagi ya? Habiskan tahun terakhir dengan misteri!!” kata Rossy semangat.
“Yosh!!” jawab teman-temannya serempak.
Rossy yang ceria berhasil membawa teman-temannya pada keceriaan lagi. “Besok-besok jika kita menemui kasus lagi, aku tidak akan terluka lagi. Aku akan lebih waspada agar tidak melewatkan kejadian yang menarik dan menegangkan lagi. Kalian juga harus menjagaku ya?” katanya.
“Eh, enak saja. Jaga diri masing-masing dong.” Kata Dony disambut tawa oleh mereka semua.
Disisi lain, Riko sepertinya masih kesal pada keempat remaja itu dan menaruh dendam pada mereka. Dia bertekad suatu hari nanti dia akan membalaskan dendamnya itu.

Bagian pertama lihat disini
Bagian kedua lihat disini

MISTERI RUMAH KOSONG DAN JENDELA YANG TIDAK BISA TERBUKA 3

Posted by : yuliarie11
Date :Selasa, 10 Januari 2012
With 0komentar
Tag : ,

MISTERI RUMAH KOSONG DAN JENDELA YANG TIDAK BISA TERBUKA 2

|
Baca selengkapnya »
Minggu pagi, pukul 09.50 pagi. Mytha,Rossy, Dony, dan Fandy telah berada di depan rumah kosong dimana mereka bertemu dengan Riko, Christ, dan Zhee minggu lalu dalam petualangan malam yang mendebarkan. Mereka menunggu di bawah sebuah pohon di luar pagar rumah kosong itu. Sekitar 10 menit kemudian, Riko, Christ, dan Zhee datang dan langsung menghampiri mereka.
“Wah, kalian tepat waktu.” Kata Fandy menyongsong datangnya ketiga remaja itu.
“Kalian hebat. Datang lebih awal. Sudah berapa lama kalian datang ke sini?” Tanya Riko pada Fandy. Sepertinya mereka jauh lebih akrab sekarang.
“Kami datang ke sini 10 menit sebelum kalian datang. Nah, bagaimana jika kita mulai saja penyelidikan kita. Bagaimana cerita yang kalian dengar tentang rumah ini?” jawab Fandy.
“Tentang pembunuhan yang terjadi 15 tahun lalu di rumah ini, kalian pasti sudah tahu kan? Menurut cerita yang kami dengar, pembunuhan itu dilakukan oleh 2 orang. Motifnya adalah harta yang tersimpan di rumah ini. Dulunya, penghuni rumah ini adalah keluarga kaya yang memiliki beberapa perusahaan besar. Ada 4 orang anggota keluarga, dan semuanya terbunuh pada hari itu.” jelas Christ pada teman-temannya.
“Tunggu. Apa kalian yakin anggota keluarga itu hanya 4 orang?” Tanya Mytha tiba-tiba memotong cerita Christ.
“Menurut cerita yang kami dengar, anggota keluarga itu memang 4 orang. Seorang ayah, seorang ibu, seorang anak laki-laki, dan seorang anak perempuan.” Jawab Zhee menambahkan cerita Christ.
“Anggota keluarga itu bukan 4 orang. Aku sudah mencari buktinya dengan bertanya pada masyarakat setempat dan polisi.” Kata Mytha lagi.
“Apa? Bagaimana kau tahu jika anggota keluarga itu bukan 4 orang?” Tanya Fandy. Teman-teman yang lainnya juga terkejut mendengar perkataan Mytha.
“Kalian ingat album foto yang aku temukan saat kita melakukan uji nyali waktu itu? di dalam foto itu, si Ibu sedang hamil. Kamu juga melihatnya kan, Rossy?” Tanya Mytha pada Rossy yang saat itu juga ikut melihat album foto itu. Rossy hanya mengangguk. “Aku lupa tanggal yang ada pada foto itu. Karena itu, aku memastikannya dengan bertanya pada masyarakat sekitar dan pada polisi yang menangani kasus itu 15 tahun lalu.” sambung Mytha lagi.
“Apa yang mereka katakan, Mytha?” Tanya Dony, yang sejak awal hanya diam. Sepertinya dia kurang menyukai ketiga teman barunya itu.
“Saat bertanya pada masyarakat sekitar, mereka mengatakan bahwa keluarga itu memang hanya berjumlah 4 orang. Mereka mengatakan, keluarga itu memang tertutup dan jarang bergaul dengan masyarakat sekitarnya.” Kata Mytha. Dia menarik napas dalam sebelum melanjutkan ceritanya.
“Saat aku menanyakan polisi, aku berhasil menemui polisi yang menangani kasus itu dulu. Beliau masih menyimpan file kasus itu. Oh, sebelum melanjutkan ceritaku, ayo kita masuk ke rumah itu dulu. Akan kutunjukkan jika ceritaku benar.” Kata Mytha lagi.
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah itu. Pada siang itu, kondisi ruangan pada rumah itu tetap gelap, meskipun ada sedikit cahaya matahari menerobos masuk ke dalamnya. Saat masuk, Mytha langsung menuju ke sebuah rak buku di mana dia menemukan album itu. Dia terlihat sedikit terkejut. Melihat ekspresi sahabatnyanya yang tiba-tiba berubah, Rossy langsung bertanya.
“Ada apa Mytha? Kenapa kamu terlihat cemas?” Tanyanya.
“Ada seseorang yang merubah letak album ini. Aku ingat dengan jelas saat itu aku meletakkan album itu di sini.” Katanya seraya menunjukkan tempat dimana ia merasa meletakkan album itu sebelumya. Dengan wajah yang cemas, ia membuka album itu dan mencari foto yang ia lihat. Ia juga menduga-duga siapakah orang yang memindahkan album itu. ‘Dan untuk apa orang itu melihat album lama itu?’ gumamnya dalam hati.
“Nah, ini dia fotonya.” Kata Mytha setelah menemukan foto yang dia cari. Dia melepas foto itu dan memperhatikan dengan detil foto itu sampai ditemukannya tanggal percetakan foto itu. “Foto ini dicetak pada tanggal 15 April 1993. Sedangkan pembunuhan itu, yang aku dapat dari polisi itu, terjadi pada tanggal 17 September 1995. Itu artinya ada satu orang lagi yang masih tersisa dari keluarga itu. Dan jika memang benar anak itu masih hidup sampai sekarang, berarti dia seumuran dengan kita.” Kata Mytha. Dia memang cerdas dalam hal mengumpulkan data dan mengolah data itu. Meskipun sedikit pendiam, dia itu seperti ‘air tenang yang menghanyutkan’.
“Tapi Mytha, bisa saja Ibu itu mengalami keguguran sebelum melahirkan anaknya.” Kata Fandy menolak analisis Mytha.
“Fandy benar, Mytha.” Kata Riko angkat bicara. “Jika memang benar mereka memiliki seorang anak lagi, tidak mungkin masyarakat sekitar sini tidak mengetahui tentang itu.” sambungnya.
“Itu tidak mungkin. Aku juga sudah bertanya pada masyarakat sekitar, apakah Ibu itu pernah mengalami keguguran atau adakah salah seorang anaknya meninggal. Tapi, mereka mengatakan tidak ada satu pun kemungkinan itu yang terjadi.” Kata Mytha tidak mau kalah. “Untuk pendapat Riko, aku dapat informasi, ada seseorang yang pernah bekerja di rumah itu sebagai Baby Sitter. Namanya Aminah. Mungkin saat ini beliau sudah berusia sekitar 40 tahun. Mungkin beliau mengetahui tentang anak yang mungkin masih tersisa dari keluarga itu.” kata Mytha lagi.
“Baiklah, untuk pencarian anak yang tersisa itu, kita lakukan nanti saja. Sebaiknya kita mulai menyelidiki rumah ini. Sudah pukul 11 sejak kita datang ke sini. Kita harus memperhatikan hal sekecil apapun di rumah ini yang bisa menjadi petunjuk tentang rahasia di rumah ini, dan kasus pembunuhan 15 tahun yang lalu.” kata Fandy memotong pembicaraan tentang keluarga itu.
“Yah. Fandy benar. Kita datang ke sini untuk mendapatkan bukti.” Kata Dony. Rossy dan Zhee mengangguk tanda setuju.
Mereka mulai menjelajahi rumah itu. Ruang tamunya masih seperti yang mereka lihat pada malam dimana mereka uji nyali. Saat memasuki ruangan berikutnya, mereka menemukan boneka yang telah tercabik-cabik masih tergeletak di sana. Mereka mengamati boneka itu sejenak. Karena tidak menemukan apa-apa, mereka berlalu dari ruangan itu. Namun sebelum berlalu dari ruangan itu, ada beberapa lukisan yang baru mereka lihat di dinding ruangan itu. Ada lukisan bunga, hutan, dan lukisan abstrak.
Setelah mengamati sekilas, mereka menuju ruangan selanjutnya. Di ruangan itu terdapat sebuah lemari kecil. Mungkin di atas lemari itu tempat meletakkan sebuah televisi yang sekarang sudah tidak berbekas lagi. Di ruangan itu terdapat sebuah sofa tepat di depan lemari itu, mengelilingi sebuah meja kecil. Dan di kedua sudut ruangan, terdapat dua buah tangga menuju ke lantai 2 rumah itu.
Mytha, Riko, dan Rossy naik ke lantai dua rumah itu. Memeriksa kamar-kamar yang ada di sana. Dony dan Fandy memeriksa kamar-kamar yang terdapat di lantai satu. Dan Christ dan Zhee memeriksa dapur dan teras belakang rumah itu.
Mytha, Riko dan Rossy memasuki satu per satu kamar yang ada di lantai itu. sepertinya kamar pertama yang mereka temui adalah kamar anak laki-laki yang terbunuh itu. Kamar itu cukup luas. Ada beberapa poster penyanyi terkenal pada tahun 80-an yang melekat pada dinding kamar itu. Ada bercak-bercak hitam pada dinding yang berwarna biru yang sudah pudar itu. Mungkin itu adalah percikan darah anak laki-laki itu pada saat pembunuhan itu terjadi.
Rossy merinding ketika memasuki kamar itu. Dia membuka-buka lemari yang terdapat di kamar itu untuk memeriksanya, ketika tiba-tiba dari dalam lemari pakaian muncul seekor laba-laba besar. Dia menjerit ketakutan yang membuat Mytha dan Riko amat terkejut.
“Tenanglah, Rossy. Itu hanyalah laba-laba.” Kata Mytha menenangkan Rossy yang ketakutan. Riko mengusir laba-laba itu, dan kemudian menunjukkan sebuah buku yang dia temukan. Riko membuka-buka halaman buku itu di depan Rossy dan Mytha. Buku itu hanyalah sebuah buku biasa. Namun, di dalam buku itu terdapat beberapa halaman yang tersobek seperti sengaja di gunting.
“Cobalah kalian lihat apa yang baru saja aku temukan.” Kata Riko. “Nomor-nomor halaman yang ada di buku ini sengaja di gunting oleh seseorang dan dia menempelkan nomor-nomor itu di halaman paling belakang buku ini. Nomor-nomor itu seperti membentuk suatu pola tertentu.” Katanya lagi.
“Apa yang tertulis di sana, Riko?” Kata Mytha tidak sabar ingin melihat kode itu secara langsung. Namun, Riko tidak menyerahkan buku itu pada Mytha.
“Itu pasti kode hartanya! Kita harus memberitahu yang lainnya.” Kata Rossy langsung menimpali dengan bersemangat.
“Baiklah, nanti kita beritahu mereka. Masih ada 2 kamar lagi yang harus kita periksa. Semoga saja kita bisa menemukan lebih banyak petunjuk.” Katanya Riko mengingatkan tugas mereka dan segera memasukkan buku itu ke dalam tas nya. Rossy dan Mytha tidak protes akan hal itu.
Di lantai satu, Dony dan Fandy memasuki salah satu kamar yang ada di sekitar ruang keluarga itu. Kamar itu begitu besar. Mungkin bekas kamar Tuan dan Nyonya di rumah itu. Dony dan Fandy memeriksa lemari dan meja-meja berlaci yang ada di ruangan itu. Namun, mereka tidak menemukan apapun. Mereka pandah ke seberang ruangan keluarga itu, memasuki sebuah kamar lagi. Mungkin bekas kamar pembantu. Kamar itu rapi. Lemari-lemarinya kosong. Mungkin pembantu itu segera pergi dari rumah itu ketika Tuan nya terbunuh. Karena tidak menemukan apa-apa, mereka lalu duduk di sofa yang ada di ruang keluarga itu.
Di dapur, Christ dan Zhee memeriksa lemari-lemari yang ada di ruangan itu. Mereka menemukan beberapa bungkus makanan yang sudah sangat lama. Makanan itu sudah membusuk dan mencemari udara di sekitarnya. Mereka juga memeriksa saluran air yang ada di rumah itu, dan ternyata masih mengalir. Selain saluran air yang msaih mengalir, mereka tidak menemukan apapun lagi di dapur itu. Mereka langsung menuju ke teras belakang rumah itu. Namun, pintu belakang rumah itu sudah tidak bisa terbuka. Engsel-engselnya yang penuh karat, hampir patah bila di buka. Akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk tidak jadi memeriksa teras dan halaman belakang rumah itu dan kembali ke ruang keluarga dimana Dony dan Fandy sudah duduk menunggu di sofa tua di ruangan itu.
Di lantai dua, Mytha, Riko dan Rossy pun pergi menuju ke kamar di sebalah kamar itu. Dinding kamar itu berwarna merah muda. Menggambarkan ciri khas kamar anak perempuan. Kamar berdebu itu, meskipun telah lama di tinggalkan oleh pemiliknya, masih menampakkan kerapiannya. “Anak yang sangat teliti.” Pikir ketiga remaja itu.
Setelah beberapa lama mencari dan menggeledah kamar itu, mereka tidak menemukan apa-apa, kecuali suatu kejanggalan yang ada di kamar itu. Mytha menyadari kejangggalan itu, karena dialah satu-satunya yang memperhatikan album foto itu dengan sangat teliti.
“Tidak ada satupun boneka ada di kamar ini. Padahal pada album foto itu, anak perempuan itu sedang memegang boneka. Aneh sekali jika tidak ada satupun boneka di kamar ini.” Katanya.
“Mungkin boneka-boneka itu telah di pindahkan seseorang.” Kata Riko menambahkan analisis Mytha.
“Siapa yang telah memindahkan boneka itu? Dan apa tujuannya?” gumam Mytha seolah pada dirinya sendiri.
“Mungkin pembunuh itu.” kata Rossy. Terlihat dia sedikit gemetaran dan ketakutan. “Mungkin dia masih hidup dan dia sudah lebih dulu datang ke sini sebelum kita. Aku yakin boneka itu ada hubungannya dengan harta itu. terbukti dengan adanya boneka tercabik yang kita temukan.” Katanya lagi. Kali ini benar-benar membuat Riko dan Mytha cemas.
“Sebaiknya kita segera berkumpul dengan teman-teman yang lain dan membicarakan ini.” Kata Riko.
“Tapi kita belum memeriksa satu kamar lagi di lantai ini.” Kata Mytha bersikeras.
“Baiklah, kita segera ke kamar itu dan memeriksanya, dan setelah itu segera memanggil teman-teman yang lain.” Kata Riko lagi.
Mereka langsung menuju ke kamar di sebelah kamar anak perempuan itu. Kamar itu lebih terlihat seperti kamar bayi. Mereka langsung berpikir bahwa di kamar itu tidak tersembunyi apapun dan langsung pergi dari kamar itu.
Di ruang keluarga, Dony, Fandy, Christ, dan Zhee sedang membicarakan hasil pemeriksaan mereka. Sepertinya mereka bosan karena tidak menemukan petunjuk apapun. Mytha, Riko dan Rossy pun segera bergabung dengan mereka dan menceritakan apa yang mereka temukan. Riko mengeluarkan buku yang di temuinya. Dia menunjukkan nomor-nomor halaman yang di gunting, dan kode yang ada dibelakang buku itu.
Kode itu membentuk susunan angka acak dan ada tulisan lain di dekatnya yang berbunyi, “CARILAH DIMANA HARTAKU BERADA”.

Mereka memperhatikan sejenak kode itu dan dengan cepat mereka bisa menebak maksud kode itu.
“Apa-apaan kode ini? Benarkah ini kode harta yang di sembunyikan di rumah ini?” Kata Dony. “Kode ini terlalu gampang. Ini kode anak-anak. Sangat tidak cocok untuk sebuah kode yang menunjukkan ‘harta’.” Sambungnya lagi.
“Kamu benar, Dony.” Kata Riko. Ia lalu berkata lagi, “Aku jadi tidak yakin ini adalah kode harta itu. Ini terlalu gampang.”
“Tapi bagaimana jika kita coba cari petunjuk pada tempat yang ditunjukkan oleh kode itu?” kata Zhee. “Tidak ada salahnya untuk mencoba, kan?” Perkataan itu di sambut oleh anggukan Rossy dan Christ.
“Teman-teman, sebaiknya kalian jelaskan arti dari kode itu kepada pembaca, agar mereka mengerti tempat apa yang kalian maksud.” Kata Fandy tiba-tiba.
“Oh, baiklah.” Kata mereka serempak.
“Wah, hebat sekali. Kalian kompak sekali. Lalu, siapakah yang akan menjelaskan kode itu?” kata Fandy lagi. Semuanya menunjuk Dony. Mau tidak mau, dia mulai menjelaskan.
“Kode ini sangat gampang. Kita tinggal mengganti angka-angka itu menjadi huruf. Misalkan, angka ‘1’ artinya ‘a’, dan seterusnya.” Jawab Dony.
“Lalu, arti kodenya apa, Pak Guru?” Goda teman-temannya yang lain.
“Artinya, ‘BUNGA BERBINGKAI’, anak-anak.” kata Dony dengan gaya yang di buat seperti seorang guru yang sedang menjelaskan di depan murid-muridnya.
“Baiklah, sekarang kita ke tempat yang di tunjuk oleh kode itu.” kata Fandy.
“Tunggu, Fandy. BUNGA BERBINGKAI itu dimana?” kata Rossy memotong. Yah, wajar sih. Biasanya dia yang paling lamban dalam berpikir.
“Kamu belum mengerti BUNGA BERBINGKAI itu apa? Teman-teman yang lain pasti sudah mengerti apa arti kata itu.” kata Dony dengan gaya mengejek.
“Kalau tidak mau memberitahu, ya sudah. Tidak apa-apa.” Kata Rossy ngambek.
“Baiklah. Sebelumnya, apa kamu sudah memperhatikan rumah ini dengan baik?” Tanya Dony.
“Tentu saja sudah.” Kata Rossy. “Eh, apakah kata itu berarti Lukisan Bunga?” Tanya Rossy dengan mata berbinar.
“Nah, akhirnya mengerti juga.”kata Dony.
“Huh. Iya, Pak Guru dengan IQ 140!!” kata Rossy. Sepertinya dia masih ngambek.
“Sudahlah, kalian.” Kata Riko memotong. Sebaiknya kita segera menuju Lukisan Bunga itu.
Mereka semua mulai mencari lukisan yang disebutkan dalam kode itu. Dan ternyata lukisan itu terletak tidak jauh dari mereka. Mytha sudah lebih dulu mengamati lukisan itu. Dia mencoba melepaskan lukisan itu dari dinding tempatnya tergantung. Ternyata lukisan itu jauh lebih bersih dibanding lukisan yang lainnya yang tergantung di dinding.
“Sebenarnya apa yang tersembunyi di rumah ini?” gumam Mytha seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Apa yang orang-orang incar di rumah ini sampai harus membunuh satu keluarga itu?” tanyanya.
“Memangnya ada apa, Mytha?” Tanya Riko khas dengan suara beratnya.
“Lukisan ini. Lukisan ini terlalu bersih untuk sebuah rumah yang sudah 15 tahun tidak berpenghuni.” Katanya. “Mungkin sekitar dua sampai tiga bulan yang lalu pembunuh itu ke rumah ini dan berhasil menemukan kode itu”
“Apakah itu berarti pembunuh itu telah berhasil mendapatkan harta itu?” Tanya Zhee.
“Tidak. Aku rasa pembunuh itu belum mendapatkan harta itu.” kata Christ.
“Bagaimana kamu bisa yakin akan hal itu, Christ?” Tanya Zhee dan Rossy hampir bersamaan.
“Baca kertas ini!” kata Christ dambil menyerahkan sobekan kertas yang tidak beraturan. “Aku baru saja menemukan kertas itu di antara kaca lemari di sana.” Katanya lagi sambil menunjukkan lemari yang terletak di seberang ruangan tempat mereka berada.
“Coba kulihat.” Kata Fandy. Dia terbelalak ketika membaca apa yang tertulis di kertas itu. Yang lainnya semakin penasaran dengan isi kertas itu dan segera menggerombol untuk melihat tulisan pada kertas itu. Tulisan itu masih baru. Kertasnya masih putih bersih, namun kertasnya sudah sedikit lecek akibat terlipat-lipat.

“Ini tidak mungkin.” Kata Rossy. Dia sangat ketakutan. Mytha juga langsung gemetaran ketika membaca tulisan yang ada di kertas itu. Dugaannya ternyata benar. Masih ada seorang lagi yang mengincar harta itu. Mungkinkah seseorang itu adalah pembunuh keluarga kaya itu?
Teman-temannya yang lain juga tidak bisa menyembunyikan ketakutan dan kecemasan mereka. Dengan pembunuh yang berkeliaran dan mengawasi mereka, bagaimana mereka bisa tenang? Meskipun dalam jumlah mereka menang karena pembunuh itu berjumlah 2 orang. Tetapi pembunuh tetaplah pembunuh. Seseorang yang dapat membunuh dengan mudahnya tanpa rasa kasihan dan rasa bersalah, hati nuraninya pasti telah mati. Dan dia pasti sanggup melakukan apapun tanpa ragu meskipun itu adalah membunuh keluarganya sendiri.
Setelah mendapatkan surat ancaman itu, ketegangan di antara mereka semakin tinggi. Mereka lebih banyak diam. Namun, sepertinya mereka belum mau menyerah tentang harta itu, terlebih Mytha dan Rossy. Mytha, meskipun dengan tangan yang gemetar, dia mulai membersihkan lukisan bunga yang mereka temukan dengan sapu tangannya. Setelah bersih, dia dan mulai mengamati lukisan itu dengan seksama. Teman-temannya yang sebelumnya ragu-ragu untuk meneruskan penyelidikan mereka yang sangat berbahaya, mulai terpengaruh dan ikut mengamati lukisan itu.
“Lihat, teman-teman!” Zhee tiba-tiba berseru. Dia lalu menunjukkan salah satu sudut lukisan itu. Terlihat beberapa tulisan aneh seperti kode pada tempat yang ditunjuknya.
“Itu kode selanjutnya, teman-teman.” Kata Riko semangat.
“Apa kalian tidak takut pada peringatan itu, teman-teman?” Tanya Mytha. “Nyawa kalian bisa melayang jika kalian meneruskan penyelidikan ini.” Katanya lagi.
“Kami sebenarnya takut. Tapi, ketika melihat semangatmu, kami jadi berpikir betapa menariknya jika penyelidikan ini diteruskan.” Kata Rossy mewakili teman-temannya karena dialah yang paling ketakutan saat melihat surat ancaman itu.
“Aku berbeda dari kalian.” Kata Mytha. “Aku tidak masalah jika aku mati. Aku akan melanjutkan penyelidikanku sampai akhir. Karena aku tidak memiliki hal yang berharga seperti kalian.” Katanya lagi.
“Apa yang kamu katakan, Mytha. Kata Dony. Apakah kami, teman-temanmu, bukan hal yang berharga untukmu? Dan juga, ibumu masih menunggumu di rumah.” Kata Dony jengkel mendengar perkataan Mytha.
“Dony benar. Kami teman-temanmu. Kami tidak akan membiarkan kamu sendirian.” Kata Rossy.
“Benar, Mytha. Tidak boleh berbicara seperti itu.” Kata Riko. Dia bertanya-tanya. Apakah Mytha benar-benar ingin mati? Dia yang beru mengenal Mytha dan teman-temannya, tentu saja bingung dengan apa yang terjadi.
Tiba-tiba Mytha tertawa keras. Teman-temannya bingung melihat tingkah lakunya.
“Kalian semua tertipu dengan gampang sekali!! Hahaha..” katanya di sela-sela tawanya. “Tentu saja aku tidak akan melakukan hal itu. Aku senang karena aku mempunya teman yang peduli padaku seperti kalian.” Katanya lagi.
“Ahh. Mytha. Kamu membuat kami takut.” Kata Rossy. “Kami pikir kamu sungguh-sungguh mengatakan itu.” sambungnya. Teman-teman yang lainnya pun merasa lega, walaupun mereka tidak bisa menghilangkan kecemasan karena surat ancaman yang mereka terima.
Di tengah keceriaan sekaligus kecemasan yang melanda ketujuh remaja itu, ada seseorang yang mengamati mereka. Dia berkata dalam hati, “Siapakah di antara mereka berdua yang merupakan keturunan keluarga itu? Dia harus segera di lenyapkan.” Orang itu terus mengamati remaja-remaja itu dengan tatapan tajam yang ingin membunuh.
Ketujuh remaja itu berhenti tertawa dan mereka memutuskan untuk memecahkan kode yang ada pada lukisan itu. Kode itu terdiri dari beberapa bentuk, seperti bulan, orang-orangan, kubus, dan lain-lainnya.

Mereka berpikir dengan keras untuk memecahkan kode ini. Setelah beberapa lama, Christ angkat bicara. “Sepertinya aku mengerti arti kode ini.” Katanya.
“Bagaimana cara membacanya?” Tanya Fandy ingin tahu.
“Begini, teman-teman. Kita lihat gambar kode itu. Gambar itu mewakili satu huruf. Misalnya gambar bulan, mewakili huruf ‘B’, orang-orangan mewakili huruf ‘O’, dan seterusnya.” Katanya menjelaskan.
“Sederhana sekali kode itu?” kata Fandy. “Semakin lama, aku merasa kode ini seperti permainan anak-anak.” Katanya lagi.
“Jadi, arti kode itu adalah… Hm. Tunggu sebentar. Artinya adalah BONEKA KUMA?” Tanya Zhee.
“Iya. Artinya BONEKA KUMA.” Kata Christ. “Tapi aku masih tidak mengerti maksud dari BONEKA KUMA itu apa.” Katanya lagi. Hening sejenak. Semuanya berpikir keras untuk memecahkan kata-kata itu.
“BONEKA KUMA. Mungkin yang dimaksud adalah boneka beruang yang di pegang anak perempuan keluarga ini yang ada di dalam foto.” Mytha tiba-tiba memecah keheningan. “KUMA adalah bahasa Jepang untuk BERUANG. Lagipula, bukankah kamar anak-anak itu terlihat sangat Jepang sekali?” Sambungnya.
“Mungkin Mytha benar. Christ, tolong ambilkan album yang ada di lemari di ruang depan.” Kata Fandy. Christ pun segera mengambil album itu dan menyerahkannya pada teman-temannya. Dony hanya memperhatikan teman-temannya karena dia sudah tidak tertarik dengan kode yang menunjukkan harta itu. Menurutnya, itu terlalu mudah untuk menyembunyikan sesuatu yang berharga.
“Ini boneka beruang yang harus kita cari.” kata Mytha.
“Apakah BONEKA KUMA itu adalah boneka yang di cabik-cabik itu?” Tanya Christ.
“Sepertinya bukan. Bonekanya sedikit berbeda daripada boneka yang ada di foto.” Kata Mytha.
Rossy dan Riko berpikir dan membayangkan apakah di kamar yang mereka periksa terdapat boneka beruang seperti itu. Namun, akhirnya mereka menyerah dan memutuskan untuk memeriksa kamar itu sekali lagi. Teman-teman yang lain, kecuali Dony, juga mulai memeriksa boneka-boneka yang ada di lemari di ruangan itu dan di ruang tamu. Namun, mereka tidak menemukan dimanapun.
Dony duduk di sofa yang ada di tengah ruangan dan mengamati teman-temannya. Dia merasakan perasaan aneh yang menakutkan. Sejenak dia menoleh ke arah jam tangan di tangan kirinya. Namun, setelah beberapa saat barulah dia menyadari bahwa hari sudah sore dan mereka harus segera pulang. Namun, melihat teman-temannya yang sedang semangat mencari, dia hanya berkata dengan pelan, “Teman-teman, ada yang menyadari pukul berapa sekarang? Sudah pukul 5 sore. Ayolah, hentikan permainan membosankan ini.” Katanya pelan karena tidak mau menggganggu kesenangan teman-temannya.
“Dony! Kenapa malah enak-enakan duduk? Ayo bantu kami!” teriak Rossy.
“Permainan ini membosankan!” sahut Dony. “Aku tidak tertarik.” Katanya lagi.
Seseorang yang sedang memperhatikan kegiatan para remaja itu senang mendengar perkataan Dony. Dia berharap Dony segera pulang dan anggota pencari itu semakin sedikit sehingga dia bisa menguasai harta itu sendirian dan dapat melenyapkan anggota terakhir keluarga itu.
Riko kemudian mengumpulkan semua teman-temannya untuk membagi tugas pencarian karena mereka tidak bisa menemukan boneka itu dimanapun. Karena Dony tidak mau ikut pencarian itu, Riko membagi kelompok menjadi 2 kelompok beranggota tiga-tiga orang. Fandy, Mytha dan Christ satu kelompok. Sedangkan Zhee, Riko sendiri dan Rossy bersama-sama.
Setelah pembagian kelompok, mereka mulai mencari ke seluruh rumah dan mereka mengabaikan hari yang sudah sore. Fandy, Mytha, dan Christ memeriksa lantai atas yeng terdapat kamar anak-anak dan beranda. Dan Riko, Rossy, dan Zhee memeriksa di bagian kamar tidur tuan rumah, teras belakang, ruang tamu, dan teras depan.
Fandy, Mytha, dan Christ memeriksa kamar-kamar itu sekali lagi dengan lebih seksama. Namun, mereka tidak juga menemukan apapun di kamar-kamar itu. Mereka beralih ke beranda. Dan Di sana, mereka juga tidak menemukan apapun, selain debu-debu yang tebal menutupi lantai.
Di ruang tamu, Rossy, Riko, dan Zhee menyebar untuk mendapatkan boneka itu lebih cepat. Namun, tidak berapa lama setelah itu, terdengar teriakan Rossy. Zhee dan Riko dan teman-temannya yang lain segera ke tempat asal teriakan itu dan menemukan Rossy terjatuh pingsan dengan sebuah luka tusukan diperutnya. Di sampingnya, terdapat kertas yang tertulis dengan darah:

Mytha menangis melihat temannya yang berlumuran darah. Dony dan Fandy segera memanggil ambulans. Sedangkan Zhee, Christ, dan Riko hanya berdiri terpaku. Terguncang akibat kejadian barusan.
“Apakah Rossy baik-baik saja? Apakah kita semua akan mati?” Tanya Mytha dalam isakannya. “Pembunuh itu selalu mengawasi kita! Dia selalu ada di sekitar kita dan mengawasi semua yang kita lakukan.” Mytha histeris melihat temannya. Mytha yang begitu tegar bisa menjadi histeris seperti itu. Dony dan Fandy berusaha melakukan pertolongan pertama pada Rossy dan mencoba menghentikan pendarahannya.
Tidak lama kemudian, Ambulans datang dan membawa Rossy ke rumah sakit terdekat. Teman-temannya yang lain, Mytha, dan Dony, dan Fandy masih melanjutkan pencarian mereka. Mereka percaya Rossy akan selamat.
Karena Rossy ditusuk, Mytha, Fandy, dan Dony menjadi tidak ingin berhenti melakukan pencarian. Mereka ingin mencari orang yang telah menusuk Rossy. Dan menguak kisah terbunuhnya satu keluarga di rumah itu. Mereka sengaja tidak memanggil polisi, karena mereka percaya mereka dapat menguak misteri itu.
Tidak lama setelah itu, ambulans datang dan Rossy di bawa ke rumah sakit. Dan Riko mengajak para remaja itu untuk pulang, karena ia tidak ingin melihat ada korban lagi. Dengan bujukan Christ dan Zhee, akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing.
Mytha, Fandy, dan Dony tidak langsung pulang, namun menyusul Rossy ke rumah sakit karena mereka sangat mengkhawatirkan keadaan temannya itu. Sampainya di rumah sakit, Rossy masih dalam keadaan kritis. Dia belum sadar dan sepertinya lukanya cukup dalam.
Dalam perjalanan pulang, mereka membicarakan kejadian yang mereka alami di rumah kosong itu. Mereka kesal dan sedih dengan kejadian yang di alami teman mereka.
“Aku ingin mencari pembunuh itu.” kata Mytha.
“Kami juga sama sepertimu, Mytha.” Kata Dony geram. “Aku tidak bisa membiarkan pembunuh itu menyakiti temanku. Tetapi, apakah motif pembunuh itu hanyalah ingin menguasai harta itu? Jika benar begitu, kenapa Rossy yang di tusuk? Kenapa bukan Riko atau Zhee yang satu kelompok dengannya? Padahal jika di lihat, posisi Rossy saat itu lebih jauh dari pintu masuk dibandingkan Zhee ataupun Riko.” Kata Dony penuh tanda tanya.
“Apakah kita harus mencurigai mereka? Aku tidak suka mencurigai teman sendiri.” Kata Fandy.
“Kita harus memikirkan kemungkinan yang paling mungkin, meskipun itu harus mencurigai teman sendiri.” Kata Dony. “Namun, sejak awal aku sudah tidak menyukai mereka. Saat kalian mencari boneka itu, aku terus mengawasi mereka. Aku merasakan firasat buruk dengan kehadiran mereka, mulai dari kita pertama kali bertemu mereka. Saat Rossy di tusuk, apakah mereka tidak melihat ada seseorang yang masuk? Itu aneh sekali bukan?” kata Dony.
“Mungkin saja mereka sibuk dengan pencarian boneka itu, dan jarak mereka dengan Rossy agak jauh. Kita tidak boleh mencurigai seseorang tanpa bukti yang kuat.” Kata Mytha.
“Kertas yang ada di samping Rossy. Kalimat itu lumayan panjang. Apakah ada seseorang yang bisa menulis dengan sangat cepat dan segera pergi keluar dari ruangan yang besar itu? Kita telah masuk ke ruang tamu itu hanya sekitar 20 detik setelah mendengar teriakan Rossy. Dan kita tidak melihat seseorang keluar dari ruangan itu. Meskipun di dalam rumah sudah gelap, keadaan di luar rumah masih terang. Setidaknya kita masih bisa melihat siluetnya jika memang benar ada seseorang yang keluar. Di dalam ruangan itu juga sudah kita periksa. Tidak ada siapa-siapa lagi selain kita yang ada di dalam ruang tamu itu dan ruang keluarga yang ada di sampingnya.” Kata Dony panjang lebar menjelaskan analisisnya.
“Kamu benar juga, Dony.” Kata Mytha. “Bagaimana jika besok kita pergi ke rumah itu lagi, dan kita temukan harta itu sekaligus pembunuh keluarga itu.” kata Mytha.
“Tetapi besok kita sekolah kan, Mytha.” Kata Fandy. Nadanya menyiratkan kalau dia tidak setuju dengan ide Mytha.
“Aku tidak perduli dengan sekolah. Aku ingin menebus kesalahanku.” Kata Mytha lagi.
“Kesalahan? Kamu tidak pernah bersalah pada siapa pun diantara kami.” Kata Dony.
“Tidak. Kalian salah. Jadi, bagaimana? Kalian ikut atau tidak?” Tanya Mytha. Mungkin ingin mengalihkan pembicaraan.
“Kami ikut!” kata Dony dan Fandy bersamaan.
“Baiklah. Besok, pada jam 7, kita sudah harus berkumpul.” Kata Mytha.

Bagian pertama lihat disini
Bagian ketiga lihat disini

MISTERI RUMAH KOSONG DAN JENDELA YANG TIDAK BISA TERBUKA 2

Posted by : yuliarie11
Date :
With 0komentar
Tag : ,

MISTERI RUMAH KOSONG DAN JENDELA YANG TIDAK BISA TERBUKA 1

|
Baca selengkapnya »
“Wah, rajin sekali kamu hari ini, Fan. Hahaha..” Dony tiba-tiba telah berdiri di depan Fandy yang sedang asyik membaca buku test IQ nya.
“Iya dong. Rajin itu harus.” Jawab Fandy tanpa menghiraukan candaan Dony. “Don, apa kamu tahu jawaban soal nomor 14 ini? Aku bingung menjawabnya.”
“Coba lihat. Oh, ini. Ini kan gampang. Coba perhatikan awal kalimatnya. Nah, sudah tahu kan jawabannya apa.”
“Oh, begitu ya, Don. Aku kurang teliti. Terimakasih.”
“Wajar saja dia tahu. Kami pernah bahas soal itu bersama-sama.” Sebuah suara terdengar dari arah pintu kelas. Di sana berdiri 2 orang gadis –yang bisa kau tebak adalah gadis-gadis pencinta misteri seperti kami–. Dony hanya cengengesan mendengar kata-kata itu.
“Selamat pagi, Mytha, Rossy.” Fandy menghentikan kegiatan membacanya.
“Selamat pagi.” Jawab keduanya serempak.
“Fan, Don, pagi ini Rossy punya kisah menarik. Mau dengar?”
“Boleh, tentang apa?” Dony duduk di kursi di samping Fandy, yang langsung memasang tampang protes. “Hahaha.. jangan protes. Dengarkan cerita Rossy dulu.”
“Baiklah. Aku kemarin dapat berita dari temanku. Ada sebuah rumah kosong di dekat kos temanku itu, yang katanya angker. Dulunya, di rumah itu terjadi pembunuhan. Semua anggota keluarga yang tinggal di rumah itu di bunuh. Pelakunya belum tertangkap sampai sekarang. Katanya pembunuhnya itu mengincar harta yang di sembunyikan keluarga itu.”
“Jadi, kamu mau mengajak kami untuk menyelidiki kasus pembunuhan itu?” Potong Fandy.
“Siapa yang bilang? Aku cuma ingin megajak kalian uji nyali di sana. Yah, siapa tahu kita bisa menemukan harta itu.” Kata Rossy sambil ketawa.
“Yee.. dasar matre.” Kata Dony. Mereka pun tertawa.
“Jadi, gimana menurut kalian?” sambung Rossy lagi.
“Menarik sih. Aku ikut.” Kata Fandy. “Kamu gimana Don?”
“Kayaknya kalian ikut semua. Aku ikut juga deh.”
“Kita sepakat. Hari sabtu depan kita ke sana, OK?” kata Rossy penuh semangat.
“Yosh!” Jawab Mytha, Fandy dan Dony serempak.
Seperti inilah hari-hari para remaja itu di kelas XII IPA 2. Mytha Hermiyanti yang cuek dan sedikit pendiam, Rossyta Misa yang ceria, Dony Adrian Pratama yang jahil, dan Fandy Putra Galih yang pintar. Mereka bersekolah di salah satu SMA negeri di Kalimantan Tengah dan sekarang memasuki tahun terakhir mereka di SMA. Mereka bersahabat sejak kelas 1 SMA karena mempunyai hobi dan minat yang sama. Tahun terakhir ini tentu saja tak akan disia-sia kan oleh mereka. Mereka akan mencari kesenangan mereka dengan terlibat dalam misteri-misteri. Dan mungkin saja perjalanan mereka kali ini akan menemukan sebuah misteri yang menarik.

#####

Malam itu, mereka pergi ke rumah kosong itu. Rumah itu besar. Dindingnya mulai menghitam oleh lumut-lumut yang menumpang tinggal pada dinding itu. Beberapa kaca jendelanya pecah. Memperlihatkan suasana rumah kosong yang gelap dan mencekam. Pintunya yang besar tertutup rapat. Menandakan tak pernah ada seorang pun yang memasuki rumah itu setelah kejadian tragis beberapa belas tahun yang lalu. Rerumputan tinggi tumbuh subur di taman rumah itu. Pepohonan besar tak terurus melambaikan daunnya yang tertiup angin malam.
“Rumah yang menyeramkan sekaligus menarik. Cocok sekali untuk uji nyali kali ini.” Itulah yang ada dalam pikiran keempat remaja itu.
Mereka pun mulai masuk ke dalam rumah itu dengan berbekal sebuah senter di tangan masing-masing.
“Hmm, Rossy. Boleh aku bertanya sesuatu?” kata Fandy memecah kesunyian ketika mereka mulai memasuki rumah itu.
“iya, boleh. Ada apa?”
“Kenapa sentermu jauh lebih besar dari yang kami bawa?” kata Fandy dengan gaya polosnya. Terlihat bahwa dia sedang berusaha menahan tawanya. Wajah Rossy memerah. “I.. Itu..”
“Sudahlah Fan. Jangan menggoda dia. Kau tahu sendiri kan, Rossy itu penakut. Hahaha..” canda Dony yang langsung mendapat pukulan dari Rossy.
“Sudahlah, kalian. Sebaiknya kalian perhatikan langkah kaki kalian.” Mytha mengingatkan.
Mereka telah memasuki ruang pertama dalam rumah itu. Mungkin itu adalah ruang tamu. Ruangan itu besar. Terdapat 2 buah lemari di dinding ruangan itu. Salah satunya adalah lemari buku. Terlihat beberapa buah buku yang telah usang masih tersimpan di lemari itu. Mytha mendekati rak buku itu dan mengambil salah satunya. Itu adalah sebuah album foto. Terdapat benyak sekali foto di dalam album itu. Namun, ada beberapa foto yang telah di lepaskan dari album itu.
Mytha memperhatikan foto-foto itu sejenak sebelum dikembalikannya album usang berdebu itu. Rossy yang berdiri di sampingnya yang ikut memperhatikan album itu terbatuk- batuk karena debu yang berterbangan menggelitik indra penciumannya yang sensitif. Dony dan Fandy berkeliling ruangan itu untuk melihat-lihat dan memeriksa ruangan itu.
“Apa benar di tempat ini pernah terjadi sebuah pembunuhan yang kejam? Ruangan ini tidak menunjukkan hal itu. Padahal dari yang ku dengar, pembunuhan itu terjadi di ruang tamu rumah ini.” Fandy yang memang cermat, tiba-tiba bergumam.
“Dari yang ku dengar, pembunuh itu membunuh 4 orang anggota keluarga yang tinggal di sini. Tiga di temukan di ruang tamu, dan yang satu orang lagi ditemukan di kamar tidur. Tapi, kamu memang benar, Fandy. Ruangan ini terlalu rapih untuk sebuah tempat pembunuhan. Terlebih lagi, jika benar berita yang ku dengar, motif pembunuh itu adalah harta yang di sembunyikan di rumah ini.” Dony menambahkan argumennya.
“Tapi pembunuhan itu telah terjadi beberapa belas tahun yang lalu. Mungkin saja ada masyarakat sekitar sini yang membersihkan rumah ini. Atau mungkin ada kerabat yang datang membersihkan rumah ini.” Mytha menambahkan argumen teman-temannya yang di rasakannya mustahil.
“Iya. Mytha benar.” Rossy yang sejak tadi diam, mulai bersuara. Mungkin untuk menghilangkan rasa mencekam yang menyelimuti hatinya. Semuanya akhirnya setuju dengan pendapat Mytha. Mereka kemudian mulai memasuki ruangan selanjutnya.
Diluar dugaan, ruangan itu sedikit berantakan. Mereka berempat memutari ruangan itu dengan hati-hati. Ada banyak sampah seperti kapas di lantai rumah itu. dan tak jauh dari sampah-sampah yang mirip kapas itu, tergeletak boneka yang tercabik-cabik. Dan ada banyak jejak kaki di ruangan itu. Mytha dan Rossy bergidik melihat boneka yang tercabik-cabik itu. Selain itu, mereka mulai khawatir dengan jejak-jejak kaki yang ada dilantai itu. Apakah ada orang lain selain mereka di rumah itu? Apa yang dilakukan orang itu? Apa yang mereka cari? Untuk apa mereka mencabik-cabik boneka? Apa tujuan mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk dalam benak remaja-remaja itu.
Tak berapa lama, terdengar bunyi pintu besar di depan rumah itu berdecit. Ada seseorang yang memasuki rumah itu. Sontak para remaja itu mematikan senter mereka. Mereka bergeser merapat ke dinding. Berusaha mencari tempat untuk bersembunyi dalam kegelapan.
Sunyi. tidak terdengar suara langkah ataupun suara orang berbicara. Remaja-remaja itu bertanya-tanya. Siapakah yang membuka pintu besar itu? kenapa begitu sunyi sekarang? Kemana orang-orang itu pergi? Dalam kecemasan dan kekhawatiran, mereka sedikit demi sedikit bisa melihat cahaya kuning dari lilin yang menyusup lewat celah-celah pintu. Mereka menahan napas cemas. Akankah kami ketahuan?
Mereka semakin merapat ke dinding. Bersembunyi di dekat tirai-tirai berdebu, dan lemari-lemari berisi beberapa boneka yang -entah kenapa- masih utuh. Rossy berulang kali menahan diri untuk tidak bersin. Mytha memasang matanya yang tajam. Mengira-ngira kemungkinan terburuk jika mereka ketahuan. Fandy dan Dony juga bersiap-siap untuk menerjang jika mereka memang benar-benar ketahuan. Mereka yakin dengan kekuatan mereka, mereka bisa menahan orang -yang mungkin saja pembunuh itu- dengan kekuatan mereka.
Cahaya lilin itu semakin mendekat. Dan seseorang membuka pintu ruangan itu lebih lebar. Tampaklah 3 orang menggunakan baju hitam-hitam memasuki ruangan itu. Satu orang berjalan di depan dengan memegang sebuah lilin, dan yang lain berjalan mengikuti di belakangnya. Langkah pasti mereka membuat jantung para remaja itu bagai hentakan kaki kuda di ladang pacuan. Mereka terus berdoa agar keberadaan mereka tidak di ketahui.
Orang-orang itu berlalu dengan tenang menuju ruangan berikutnya. Dengan cahaya lilin yang samar, para remaja itu tidak dapat melihat wajah orang-orang itu dengan jelas. Namun, mereka bersyukur karena keberadaan mereka tidak diketahui. Karena rasa penasaran yang tinggi, Fandy dan Dony langsung bergerak dan mulai membuntuti orang-orang misterius itu. Mytha dan Rossy yang ingin mencegahnya, tak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya mengikuti Fandy dan Dony walaupun mereka khawatir dan cemas dengan keselamatan mereka.
Orang-orang itu terus berjalan dengan tenang tanpa menyadari bahwa mereka sedang dibuntuti. Mereka memasuki ruangan yang lebih dalam dari rumah itu. Kemudian, mereka menuju ke sebuah lemari. Seseorang yang berdiri paling depan membuka lemari itu, dan mulai masuk ke dalamnya. Mungkin itu adalah suatu jalan rahasia ke suatu tempat, pikir keempat remaja itu. Mereka terus mengamati orang-orang itu dalam kegelapan.
Rossy yang memiliki hidung sensitif, tiba-tiba bersin dan memecah keheningan dalam rumah kosong tak berpenghuni tersebut. Ketiga temannya yang lain menahan napas kaget, dan berubah menjadi sangat khawatir dan cemas.
“Siapa di sana?” sebuah suara berat keluar dari lemari yang mereka amati. Hening. Keempat remaja itu mulai mundur. Menjauh dari lemari itu.
“Periksa siapa itu, dan tangkap orang yang di sana!” Suara berat itu memerintah 2 orang yang lainnya. Mendengar itu, keempat remaja itu langsung berlari ke arah pintu depan rumah itu. Berlari secepatnya dalam kegelapan tanpa suara. Berulang kali mereka tersandung oleh lantai rumah yang sedikit bertingkat. Akhirnya mereka berhasil menemukan pintu itu dalam kegelapan.
Dengan segera mereka membuka pintu besar itu dan berhamburan keluar dari rumah itu. Langkah orang yang mengejar mereka masih terdengar di belakang mereka. Mereka berempat berlari ke belakang sebuah pohon besar yang ada di halaman rumah itu. Mereka bersembunyi dalam kecemasan dan napas terengah-engah setelah berlarian dari dalam rumah. Orang yang mengejar mereka keluar dari rumah itu. Cahaya Bulan yang hanya setengah memancarkan sinarnya yang redup ke arah orang yang mengejar mereka. Sosok itu terlihat tinggi, dan melihat kesana-kemari mencari keempat remaja itu. Namun, dalam cahaya yang redup itu, sepertinya dia tidak bisa menemukan remaja-remaja itu dan kembali masuk menuju teman-temannya.
Remaja-remaja itu menghembuskan nafas lega. “Aku benar-benar takut tadi.” Kata Rossy.
“Itu kan karena kamu bersin tadi. Dasar.” Keluh Dony yang sekarang badannya lemas karena ketegangan dan kecemasan saat mereka bersembunyi.
“Aku ingin memastikan apa yang dilakukan orang-orang itu di sini. Besok siang kita kesini lagi ya?” Mytha bertanya seolah mereka tidak pernah mengalami hal yang membahayakan nyawa mereka seperti tadi.
“Apa??!!” Potong ketiga temannya yang lain. “Apa kalian tidak penasaran? Aku ingin tahu apa yang mereka sembunyikan di dalam rumah ini.” Sambungnya lagi.
“Aku tidak setuju!” kata Rossy.
“Ssssssttt…!!” Fandy tiba-tiba menyuruh teman-temannya diam. “Ada yang keluar.” Katanya berbisik.
Ketiga orang yang mereka lihat tadi keluar dari rumah itu. Mereka berjalan menelusuri jalan kecil di depan rumah itu hingga akhirnya keluar dari pagar dan menghilang dari pandangan. Setelah bebarapa lama ketika ketiga orang itu pergi, remaja-remaja itu keluar dari persembunyian mereka. Mereka memutuskan untuk langsung pulang setelah pengalaman menakutkan malam ini.
Belum berapa lama mereka melewati pagar rumah itu, tiba-tiba muncul seseorang yang menggunakan baju hitam-hitam. Orang yang mengejar mereka tadi. Sontak merka berbalik dan berusaha melarikan diri. Namun, dibelakang mereka telah berdiri dua orang yang lain. Mereka terjebak. Fandy dan Dony memasang ancang-ancang untuk menyerang. Mytha dan Rossy berdekapan di antara mereka. Dalam ketegangan itu, salah seorang dari ketiga orang misterius itu bertanya, “Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di rumah itu? Apa yang kalian cari?”
“Kami tidak berniat untuk menjawab pertanyaan kalian! Kalian sendiri siapa? Dan apa yang kalian sembunyikan dirumah itu?” jawab Dony yang sudah bersiap-siap untuk menyerang.
“Jika di dengar dari caramu bicara, apa kalian murid SMA?” Tanya salah satu dari orang-orang itu. suaranya berat seperti suara seseorang yang memerintah untuk mengejar mereka tadi.
“Kalau iya, memangnya kenapa?” Kali ini giliran Fandy yang menjawab. “Kalian siapa?” Tanya Fandy sekali lagi.
Ketiga orang itu tidak menjawab. Mereka diam. Setelah beberapa saat, salah satu dari mereka menjawab.
“Kami adalah murid SMA sama seperti kalian.”
“Apa? Kalian dari SMA mana? Apa yang kalian lakukan di rumah itu dengan pakaian seperti itu?” Fandy mulai tidak sabar menghadapi ketiga orang misterius itu.
“Kami dari SMA 5. Kalian dari SMA mana?” suara salah satu dari ketiga orang misterius itu mulai tenang dan santai. “Dan berhentilah bersikap terlalu waspada seperti itu. Kita bukan musuh.” Sambungnya.
“Bagaimana kami bisa tahu bahwa kalian bukan musuh kami? Kalian berpakaian aneh dan tadi kalian mengejar kami!” jawab Rossy yang sejak tadi diam.
“Kami pikir kalian adalah pembunuh itu. Sejujurnya kami juga takut ketika mendengar suara bersin salah satu dari kalian. Kami sedang melakukan uji nyali di rumah itu. Sekaligus membuktikan cerita yang beredar di masyakat tentang harta yang tersembunyi di rumah itu. O, iya. Namaku Riko” jawab orang bersuara berat yang mengaku bernama Riko itu yang mungkin pemimpin dari kelompok itu.
“Aku Fandy. Kami juga punya tujuan yang sama dengan kalian. Ini teman-temanku. Dony, Mytha, dan Rossy.” Jawab Fandy mewakili teman-temannya.
“Aku Christ dan ini Zhee.” Jawab teman Riko itu. Mereka semua kemudian bersalaman, tanda persahabatan. “Kalian dari SMA mana?” Tanya Christ.
“Kami dari SMA 1. Kalian penggemar misteri ya?” Tanya Mytha, yang memang sangat menyukai misteri melebihi teman-temannya yang lain.
“Iya. Kami senang sekali misteri. Kami dari klub penggemar misteri di SMA 5 yang diketuai Kak Riko.” Kata Zhee semangat menjelaskan tentang keberadaan klub mereka.
“Wah, teman-teman, sepertinya sudah terlalu malam untuk kita yang masih SMA jika tetap berkeliaran. Sudah pukul 1 malam. Ayo kita pulang. Udaranya juga dingin sekali.” Rossy mengngatkan teman-temannya.
“Yah, Rossy. Kita kan baru kenalan.” Kata Zhee..
“Bagaimana kalau kita bertukar nomor handphone.” Kata Riko dan Fandy hampir bersamaan. Teman-teman yang lain tertawa karena kemiripan kedua remaja itu.
Setelah bertukar nomor handphone, ketujuh remaja itu berpisah. Namun, sebelumnya mereka berjanji akan bertemu di rumah itu satu minggu lagi pada jam 10 siang.
Mytha, Fandy, Rossy dan Dony pulang dengan wajah senang, karena mereka menemukan sebuah misteri lagi yang menarik untuk dipecahkan. Selain itu, mereka mendapat beberapa teman baru karena petualangan mereka malam itu.

Bagian kedua lihat disini
Bagian ketiga lihat disini

MISTERI RUMAH KOSONG DAN JENDELA YANG TIDAK BISA TERBUKA 1

Posted by : yuliarie11
Date :
With 0komentar
Tag : ,

Part 1. Level Easy

| Selasa, 03 Januari 2012
Baca selengkapnya »
Beberapa hari yang lalu, saya (yurri) diminta untuk memecahkan suatu kasus. Kasusnya cukup rumit.

Adrian, seorang novelis, 32 tahun, ditemukan tergantung di dalam kamarnya pada tanggal 29 Februari 2012 pukul 19.30 oleh Minah, pembentunya yang akan mengambil piring bekas makannya. Kemungkinan korban bunuh diri. Tetapi, wajah korban terlihat sangat kesakitan, namun lidahnya tidak terjulur. Ujung kaki dan tangannya berwarna kemerah-merahan. Ada aroma khas di sekitar mulutnya. Korban diperkirakan meninggal pukul 18.30.
Menurutmu, benarkah Adrian bunuh diri? Berikan analisamu!

Analisa lihat disini

Part 1. Level Easy

Posted by : yuliarie11
Date :Selasa, 03 Januari 2012
With 0komentar
Tag : ,

Part 2. Level Medium

|
Baca selengkapnya »
Ya, mungkin Adrian meninggal karena Sianida.
Berikut hasil introgasi orang-orang yang bertemu dengan korban sebelum kematiannya:
-Elisa (pacar korban) “aku menemuinya di kamar sekitar pukul 18.00 untuk memberitahukan bahwa hari ini akan makan lalapan. Aku katakan sebaiknya dia mencuci tangannya dulu. Aku selalu kesini jika makan malam, dan menyiapkan makanan” (sambil terisak)
-Gunardi (Editor) “saya bertemu dgn nya pada pukul 16.00 untuk mendiskusikan naskah barunya. Apa saya dicurigai juga?”
-Andri (Adik Korban) “aku tidak menyangka dia dibunuh. Aku bertemu dgn nya pukul 18.20 untuk meminjam pen nya. Waktu itu dia sedang mengetik, jadi aku segera keluar.”
-Minah (pembantu) “saya mengantar makanan pada Tuan Adrian pukul 18.23. Saat itu tuan menyuruhku meninggalkan makanan diluar. ”
Sampai disini mungkin belum bisa di analisa dgn pasti. Tapi, dapatkah kalian berikan hipotesa dimana sianida yang membunuh korban?

Analisa lihat disini

Part 2. Level Medium

Posted by : yuliarie11
Date :
With 0komentar
Tag : ,

Part 3. level Hard

|
Baca selengkapnya »
Setelah saya periksa, ternyata ditemukan sianida di tangan dan sedikit di lalapan yang dimakan korban dan sianida juga ditemukan menempel di bagian bawah piring.
Dan dari komputer korban yang menyala, ditemukan catatan2 seperti diary yang diduga di tulis karena dia merasa akan dibunuh. Dan orang yang ada di dalam tulisan ini adalah pembunuhnya.

-26 Februari 2012. Aku baru sadar aku selalu menulis ini ketika dia kemari. Sejak hari itu, dia seperti ingin mengambil semuanya dariku. Padahal kami sama! Dan kurasa kami selalu mendapatkan hal yang sama sejak dulu!
-27 Februari 2012. Aku tahu kami punya pengalaman yang sama. Tapi dia seharusnya tidak melakukan hal yang aneh seperti itu.
-28 Februari 2012. Hari ini dia tidak ke kemari. Aku juga tidak melihatnya seharian ini.
-29 Februari 2012. Dia terlalu baik hari ini dengan menghubungkanku dengan penggemarku. Ini aneh.

Nah, itu semua yang saya ketahui. Analisalah bagaimana pelakunya membunuh Adrian, bagaimana kronologinya, dan siapa pelakunya!!

Analisa lihat disini

Part 3. level Hard

Posted by : yuliarie11
Date :
With 0komentar
Tag : ,

Analisa Part 1

| Senin, 02 Januari 2012
Baca selengkapnya »
Analisa: Adrian tidak bunuh diri. Adrian dibunuh oleh seseorang. Cara kematian yang sebenarnya adalah dengan menggunakan sianida. Terbukti dengan ujung kaki dan tangannya yang berwarna kemerah-merahan dan juga bau khas dari mulutnya. Mungkin bau khas itu adalah bau almond yang menjadi khas nya sianida.

Analisa Part 1

Posted by : yuliarie11
Date :Senin, 02 Januari 2012
With 0komentar
Tag : , ,

Analisa Part 2

|
Baca selengkapnya »
Analisa: yang paling mungkin sianida akan ditemukan pada lalapan yang dimakan korban. Atau mungkin juga di tangan korban.

Analisa Part 2

Posted by : yuliarie11
Date :
With 0komentar
Tag : , ,

Analisa Part 3

|
Baca selengkapnya »
Analisa
Pelakunya adalah Andri. Kronologinya: dia masuk ke kamar Adrian dengan alasan untuk meminta tanda tangan Adrian untuk temannya pada pukul 18.20. dia meminjam pulpen korban, lalu melumurinya dengan sianida. Saat Minah mengantarkan makanan, dia menyuruh Adrian mengatakan pada Minah untuk menyimpan makanan diluar dgn alasan ada pembicaraan yg sangat penting. Andri mengambil makanan yang ada di luar, sedangkan Adrian disuruh untuk memberikan tanda tangan untuk temannya dgn pulpen yang sudah dilumuri dengan sianida. Lalu, dia menyuruh Adrian untuk memakan nasi dgn lalapan itu. Setelah Adrian mati, Andri menggantung Adrian seolah-olah Adrian bunuh diri dan keluar dari kamar tanpa diketahui siapapun.
Soal pulpen yang ditunjukkan oleh Andri, itu adalah pulpen yang di buat duplikatnya oleh Andri (lihat catatan korban tgl 27 dan 28) mungkin hal yang aneh itu adalah kelakuan Andri yang selalu mengawasi gerak geriknya dan mengamati benda-benda miliknya. pada tanggal 28, Andri tidak terlihat. saat itulah dia membuat/mencari pulpen yang sama dengan milik Adrian.

Analisa Part 3

Posted by : yuliarie11
Date :
With 0komentar
Tag : , ,
Next Prev
▲Top▲